History

 

Lahirnya Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia

Disusun oleh: Dr. Indrawati Gandjar Roosheroe *)

dan direvisi oleh Siswa Setyahadi

*) Prof.(em) Universitas Indonesia,  Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

 

Pada akhir tahun 1965 saya pindah dari Surabaya ke Jakarta turut suami yang  mendapat tugas di Markas Besar Angkatan Laut (MABAL) Jakarta. Prof Dr.Ir. Otto Soemarwoto  waktu itu Direktur Kebun Raya LBN di  Bogor mengenalkan saya kepada Dr. Susono Saono seorang mikrobiologiwan ahli soil microbiology, khususnya bakteri, lulusan Lomonosof University Rusia yang bekerja di Treub Laboratorium Kebun Raya Bogor (KRB). Saya diminta membantu memeriksa kembali koleksi Dr. Jacoba van Ruinen yang selama ini dipelihara Pak Majid seorang teknisi yang dibimbing Dr. Ruinen. Hanya koleksi Fungi akan saya teliti kembali, sekaligus meneliti biakan Rhizopus yang saya bawa dari Surabaya. Kebetulan  pada waktu itu ada tawaran proyek dari Lemigas untuk meneliti khamir dari sumur-sumur minyak bumi yang sudah tidak dipakai, dan Dr Susono minta saya membantu beliau. Sumur2 minyak tersebut antara lain yang ada di Cepu.  Pada waktu itu Single Cell Protein sebagai sumber protein sedang ramai diteliti di Eropa, USA, dan Jepang.  Para mikrobiologiwan di hampir seluruh dunia bergerak mengisolasi sebanyak mungkin hydrocarbon utilizing yeasts, terutama dari daerah tropik. Tujuan utama mereka adalah mencari khamir yang unggul digunakan untuk dijadikan produk Single Cell Protein, karena krisis kekurangan protein sedang melanda negara-negara berkembang.

 

Pada tahun 1966 saya berkenalan dengan Dr. Poorwo Arbianto ahli biokimia ITB yang sangat tertarik pada bidang mikrobiologi, terutama fermented foods from Indonesia. Dia meneliti tempe bongkrek yang sangat mendapat perhatian dari pemerintah karena banyaknya penduduk daerah Banyumas yang sering keracunan seusai makan tempe tersebut. Begitu pula dengan Ir. Ibrahim Sastramihardja juga sangat tertarik pada fermented foods, khususnya tempe kedelai. Beliau adalah murid dari Ir. Ko Swan Djien (NRRL USA) yang sedang meneliti tempe kedelai, hampir sama seperti apa yang saya kerjakan. Begitu pula Prof.Dr. Ir. Joedoro Soedarsono dan Prof. Ir. Yutono, dan asistennya Ir. Sri Hartadi dari UGM  yang menekuni mikrobiologi tanaman ekonomi dan mikrobiologi tanah, serta juga tertarik pada tempe kedelai.  Dr. Ir. Soetarmi Tjitrosomo ahli mikologi patogen pada tanaman semula juga bergabung, tetapi kemudian mengundurkan diri karena kesibukan di IPB, antara lain mengajar bahasa Inggris kepada dosen-dosen.

Dr. Susono meneliti mikroorganisme tanah dan tertarik pada fermented foods yang menggunakan khamir.  Kebetulan sekali saya mendapat tugas dari Dr. Dradjat Prawiranegara dari Dep.Kesehatan untuk meneliti mikrobiologi pangan, khususnya mikroorganisme yang berperan dan prosesnya dari makanan fermentasi tradisional Indonesia, khususya lagi tempe kedelai. Karena satu tim Dep.Kes. sudah mulai  meneliti tempe kedelai dari segi gizi yang oleh pemerintah dianggap sebagai sumber protein nabati untuk memperbaiki kondisi gizi masyarakat strata bawah yang kurang mampu pada waktu itu.

Kita , para mikrobiologiwan yang jumlahnya masih sangat sedikit pada waktu itu, selalu berusaha untuk sesering mungkin  bertemu karena kita sangat prihatin kondisi mikrobiologi di Indonesia. Berapa sebenarnya jumlah mikrobiologiwan non-medik yang sudah ada, yaitu yang bergerak di bidang microbial taxonomy, microbial ecology (soil, water, marine), food and beverage microbiology;  bidang yang  sudah agak maju adalah mikrobiologi pertanian, perkebunan dan kehutanan).  Dimana mereka bertugas, apa spesialisasi mereka.  Dimana dan kapan  mereka menyelesaikan studi mereka?

Pada waktu itu Medical Microbiology sudah jauh lebih maju daripada Non-medical Microbiology, karena sewaktu dijajah oleh Belanda, penyakit-penyakit tropik yang disebabkan oleh mikroorganisme, terutama bakteri, sudah banyak yang diteliti, misalnya : tbc, kusta, disenteri, kolera, frambusia, dll.

Bagaimana dengan non-medical microbiology. Yang paling maju adalah bidang mikrobiologi pertanian dan perkebunan, karena pemerintah Belanda berkepentingan dengan komoditi tanaman bernilai ekonomis penting.  Maka berkembanglah Fitopatologi. Cukup banyak publikasi tentang mikroorganisme pada tanaman padi, tebu, kopi, cokelat, karet, cengkeh, pala, merica, rempah-rempah lain, yang sudah diterbitkan.

Pada pertemuan-pertemuan yang sering kita adakan kita sepakat agar masing-masing mencari dukungan dulu dari atasan masing-masing, baru kemudian kita minta Dr.Poorwo Arbianto mencari dukungan pemerintah, sebab dia sering ke  Departemen P & K  di Jakarta untuk macam-macam tugas lain. Dr. Arbianto juga mempunyai hubungan baik dengan Prof. Soepojo Padmodipoetro Ketua harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) dan dengan Wakil dari Unesco untuk Indonesia, yaitu Dr. Pala yang kemudian diganti oleh Dr. Takashi Kuroda.

Pada tahun 1969, pada GIAM Conference ke III di Bombay Indonesia diwakili tiga orang, yaitu Dr. Susono Saono mewakili Lembaga Biologi Nasional Bogor, Dr. Hartono dari Institut Pasteur Bandung, dan saya (Dra. Indrawati Gandjar) mewakili Lemigas Jakarta. Kita bertiga ditugaskan mencari sebanyak mungkin informasi di bidang mikrobiologi dan kerjasama. Pada hari kedua Conference seorang official dari Divisi Life Sciences UNESCO, yaitu Dr. A. Burgers  minta bertemu dengan saya dan Prof. Dr. Luz Baens Arcega dari University of the Philipines, dan kepada kita berdua disampaikan bahwa UNESCO bisa membantu penelitian di bidang mikrobiologi di Indonesia dan Filipina asal kita sudah mempunyai suatu perhimpunan yang diakui pemerintah. Saran beliau adalah mulailah dengan suatu culture collection, sebab apa yang dunia ketahui tentang tropical microorganisms masih sangat minim. Begitu kita kembali ke Indonesia kita mulai bergerak dan menunjuk Dr.Poorwo Arbianto sebagai Ketua, mau atau tidak mau. Susunan pengurus akan dipikir kemudian sambil kegiatan kita berjalan. Saya diberi tugas oleh Dr. Poorwo Arbianto untuk menjalin hubungan intensional karena kebetulan saya mempunyai banyak kenalan mikrobiologiwan melalui riset yang sedang saya kerjakan.  Dukungan kemudian datang dari Dr. Pala, wakil UNESCO di Jakarta dan dari Prof. Soepojo Padmodipoetro dari Departemen P dan K selaku Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO.  Dr. Pala kemudian diganti oleh Dr. Takashi Kuroda pejabat UNESCO yang banyak sekali melanjutkan memberi dukungan dan membantu meyakinkan pejabat-pejabat di pemerintah RI akan pentingnya mikrobiologi bagi Indonesia.

Sementara itu atas inisiatif Dr. A. Burgers dari UNESCO satu tim internasional minta bertemu dengan Dr. Poorwo Arbianto dan saya. Mereka adalah: Prof.Dr. Porter (Chairperson of the American Microbiology Association),  Prof.Dr.Ir. La Riviera (Belanda/mewakili UNEP),  Prof.Dr. Hans Schlegel (Jerman),  Prof. Dr. Hisaharu Taguchi  (Osaka University, Jepang), dan Prof. Dr. Yung Chil Hah (Korea). Mereka menyatakan akan membantu perkembangan mikrobiologi di Indonesia dan minta Dr.Poorwo Arbianto untuk menjadi contact person pertama sambil memikirkan suatu perhimpunan mikrobiologi yang tetap.

Pada tahun 1974 Dr. Poorwo Arbianto meskipun belum ketua resmi yang pertama, tetapi masih sebagai peneliti,  melaksanakan The  Regional Training Course on Microbial Ecology),  di ITB Bandung. Aktivitas ini yang pertama untuk Indonesia. Pengajarnya adalah para ahli dari luar negeri yang dibiayai oleh UNESCO.  Pesertanya mikrobiologiwan muda, baik dari Indonesia maupun dari negara2 ASEAN, dengan maksud agar para peserta saling bertukar pengalaman mereka di bidang mikrobiologi untuk kemudian mendirikan suatu network mikrobiologi di Asia, khususnya di kawasan ASEAN.

Pada tahun 1980 Dr.Takashi Kuroda melaksanakan suatu pertemuan “meja bundar” dengan mengundang mikrobiologiwan baik dari bidang medik, antara lain  Dr. Usman Chatib Warsa dari FKUI, maupun non-medik dan membahas bersama mikrobiologi di Indonesia, sekaligus membahas pembentukan suatu perhimpunan mikrobiologi yang mencakup semua mikrobiologiwan Indonesia. Pertemuan tersebut lebih berbentuk brain storming sekaligus saling berkenalan, saling memberi saran, apa kira-kira nama perhimpunan mikrobiologi kita, misalnya : lengkapnya harus Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia, singkatannya apa. PMI (tidak bisa sebab sudah untuk Palang Merah Indonesia) dan masih ada beberapa usul singkatan-singkatan. Akhirnya yang disetujui bersama adalah PERMI. Hal ini kemudian disampaikan kepada Dep. P dan K, sehingga kita resmi bisa bergerak baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sebagai Ketua pertama kita sepakat menunjuk Dr. Poorwo Arbianto. Beliau belum menyusun pengurus tetap, hanya memberi tugas kepada kita yang aktif mencari dana sendiri untuk start kerja, bantuan dana dapat berasal darimana saja yang penting  cepat diterima untuk keperluan organisasi. Dr. Poorwo Arbianto kemudian resmi ditunjuk oleh pemerintah menjadi National Point of Contact Representatives (NPCR) untuk Mikrobiologi pertama. Indrawati Gandjar diminta oleh Prof. Dr. Kepes (Ketua International Cell Research Organization (ICRO)) diangkat menjadi alternate panel member di ICRO mendampingi Prof. Dr. Keith Steinkraus (Cornell University) di bidang Food Microbiology, terutama fermented foods.

PERMI didirikan pada tanggal 22 September 1973. Sebagai organisasi profesi Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia telah terdaftar dengan nomor AHU.2-AH.01.01-5643 pada Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Selanjutnya, karena terbukti sumber daya manusia merupakan kelemahan utama pengembangan mikrobiologi di Indonesia, maka Prof. Soepojo Padmodipoetro melalui surat No. 100286/G/5/84  tanggal 6 November 1984 minta Dr. Indrawati Gandjar  menjadi anggota pembentuk Jaringan Mikrobiologi Nasional  dan pada tanggal 16 November 1984 sebagai Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia UNESCO menunjuk Indrawati Gandjar menjadi anggota pengarah Jaringan Mikrobiologi Nasional  agar lebih mudah  menjadi penggalang hubungan nasional dan internasional untuk mengembangkan SDM mikrobiologi di Indonesia.

Pada tahun 1985 Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia melaksanakan Kongresnya yang pertama di Hotel Indonesia di Jakarta  sekaligus The First International Conference yang dihadiri hampir semua Ketua Perhimpunan Mikrobiologi di ASEAN dan juga wakil-wakil dari UNESCO, UNEP, dll.

Prof. Dr. Sujudi senior mikrobiologiwan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia kemudian dipilih menjadi Ketua Perhimpunan Mikrobiologi ke-2 dan wakilnya Dr. Indrawati Gandjar.

Pada tahun 1988 sampai 2003 Prof. Dr. Indrawati Gandjar diminta oleh The Regional Network for Microbiology in Southeast Asia (Prof. Dr. Pornchai Matakasongbut, Prof. Dr. Malee Suwana Adth, Prof. Dr. S.T. Chang, Prof. Dr. Yung Chil Hah) melalui The Regional Office of UNESCO di Jakarta) untuk menjadi NPCR for Microbiolgy menggantikan Dr.Poorwo Arbianto menjadi NPCR Indonesia dengan tugas utama mengembangkan SDM mikrobiologi melalui hubungan internasional, antara lain exchange of young microbiologists to learn the latest techniques in microbiology in advance institutes, menghadiri  international conferences to present their research results and exchange informations with experts, to attend  international workshops, seminars, etc. Prof. Dr. Indrawati Gandjar menjalankan tugas sebagai NPCR selama 15 tahun.

Pengganti Prof. Dr. Suyudi adalah Prof. dr. Pratiwi Sudarmono dan beliaunya menjabat hingga tahun 2001.

Prof. Dr. Haryanto Dhanutirto menjadi Ketua Umum Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia sejak tahun 2001 hingga 2005 dan dilanjutkan hingga tahun 2009. Beliau seorang apoteker yang menguasai mikrobiologi farmasi.

Kepengurusan Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia terus berlanjut dan berkembang. Tahun 2009 hingga tahun 2013 para ketua cabang memberikan mandat kepada Dr. Koesnandar sebagai Ketua Umum. Beliaunya melanjutkan kepengurusan hingga 2 periode, yaitu 2015 hingga 2017. Pada tanggal 30 Agustus 2014 beliau dipanggil oleh Allah SWT sehingga pada tahun 2014 terjadi kekosongan Ketua Umum PERMI.

Pada 8-9 Oktober tahun 2015 pada saat Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) di Semarang diselenggarakan pula kongres luar biasa untuk menentukan ketua umum dan terpilihlah Dr. Siswa Setyahadi sebagai Ketua Umum PERMI periode 2015-2019.

Pertemuan Ilmiah Tahunan PERMI

Waktu pelaksanaan

Tempat

Jenis Pertemuan

2001

Yogyakarta

KONAS PERMI ke-VIII

2002

Medan

Seminar Nasional

2003

Bandung

Seminar Nasional

2004

Hotel Dibya Puri, Semarang

Seminar Nasional

25-26 Agustus 2005

Hotel Sanur Paradise, Denpasar

Seminar Internasional ke-1 & KONAS PERMI ke IX

26-27 Agustus 2006

Hotel Novotel, Solo

Seminar Nasional

2007

tidak ada data

 

2008

tidak ada data

 

20-21 November 2009

Hotel JW Marriot Surabaya

Seminar Internasional ke-2 & KONAS PERMI ke X

4-7 Oktober 2010

IPB Hall Botany Square, Bogor

Seminar Internasional ke-3

22-24 Juni 2011

Kampus Udayana, Denpasar

Seminar Internasional ke-4

20-22 September 2012

Hotel Aryaduta, Manado, Sulawesi Utara

Seminar Internasional ke-5

16-19 Oktober 2013

Hotel Aston Pontianak, Kalimantan Barat

Seminar Internasional ke-6 & KONAS PERMI ke XI

15-18 Oktober 2014

Hotel Inna Muara Padang, Sumatera Barat

Seminar Internasional ke-7

8-9 Oktober 2015

Hotel Patra Jasa, Semarang

Seminar Nasional & Kongres Luar Biasa PERMI

11-12 Agustus 2016

Hotel JW Marriot, Jakarta

Seminar Internasional ke-8

14-15 November 2017

Hotel Horison Ultima, Palembang, Sumatera Selatan

Seminar International ke-9

 

AD/ART PERMI :

  • AD/ART tahun 1993
  • AD/ART tahun 2009

 

AD/ART PERMI telah disahkan dengan akte No 20 tanggal 2 September 2010 di hadapan notaries Dradjat Darmadji, SH.